Kemandulan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak hanya terlihat dalam soal hegemoni nasab, tetapi semakin telanjang dalam pembiaran terhadap doktrin-doktrin menyimpang dan khurafat Ba‘alawī yang meresahkan warga nahdliyyin di tingkat akar rumput.
pembiran ini terlihat jelas diruang publik dan tayangan media extreme,
Di berbagai majelis dan ruang dakwah, beredar ajaran-ajaran yang jelas bertentangan dengan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah NU:
pengkultusan figur keturunan, klaim karamah otomatis berbasis darah, doktrin “cinta wali lebih utama dari ketaatan syariat”, hingga narasi bahwa kritik terhadap Ba‘alawī sama dengan memusuhi Nabi.
Ini bukan salah paham teologis. Ini distorsi akidah.
Namun respons PBNU?
Sunyi.
* Ketika Khurafat Dibiarkan Atas Nama “Adab”
PBNU tampak terjebak dalam logika keliru: bahwa menertibkan khurafat berarti “tidak beradab”, “memicu konflik”, atau “melukai perasaan habaib”. Padahal dalam tradisi NU, adab tidak pernah dipakai untuk melindungi kesesatan.
Ulama NU sejak dulu keras terhadap khurafat—tanpa kehilangan akhlak.
Yang baru hari ini adalah: kesesatan dipeluk, digandeng dan satu panggung.
Diamnya PBNU telah memberi pesan berbahaya ke publik NU:
bahwa doktrin apa pun sah, selama dibungkus nasab dan simbol kesucian.
(Padahal itu kebohongan)
Ini bukan toleransi. Ini pembiaran ideologis.
* Warga NU Resah, PBNU Absen
Keresahan nahdliyyin bukan ilusi media sosial. Ia nyata di bawah:
- Jamaah bingung membedakan tasawuf dan mistifikasi, membedakan mana syariat dan mana sesat . kesesatan dibungkus agama akan menjadi pembenaran bagi pengikutnya (mukibin)
- Santri muda diseret ke kultus figur;
- Ulama pesantren lokal dilemahkan otoritasnya oleh “pendakwah nasab”;
Namun PBNU tidak hadir sebagai hakim nilai atau hakim penegak syariat annahdliyah.
Tidak ada taushiyah resmi.
Tidak ada garis batas akidah.
Tidak ada penegasan mana tasawuf, mana tahayul.
Yang ada justru kesan: asal berlabel habaib, aman dari koreksi.
* Khurafat sebagai Alat Kuasa
Lebih berbahaya lagi, khurafat ini tidak netral. Ia berfungsi sebagai alat produksi loyalitas.
Doktrin-doktrin irasional itu bekerja untuk:
- Menutup ruang kritik;
- Mengikat jamaah secara emosional;
- Membangun kepatuhan tanpa nalar;
Ketika PBNU membiarkan ini, maka PBNU sedang membiarkan agama direduksi menjadi instrumen dominasi simbolik.
Dan ini pengkhianatan terhadap misi NU sebagai penjaga Islam wasathiyah yang berakal dan beradab.
* Kepemimpinan yang Takut Menertibkan Kesesatan
Di bawah Yahya Cholil Staquf, PBNU tampak lebih sibuk menjaga citra moderat di luar, ketimbang merawat kesehatan akidah di dalam.
Padahal kepemimpinan keagamaan tidak diuji saat semua nyaman, tetapi saat harus mengatakan “ini salah” kepada pihak yang kuat.
Ketika PBNU tidak berani menyebut khurafat sebagai khurafat, maka PBNU kehilangan fungsi paling mendasar: amar ma’ruf nahi munkar dalam struktur.
* Terakhir : Diam Adalah Fatwa Paling Berbahaya
Dalam konteks ini, diam PBNU bukan netral.
Ia adalah fatwa sosial tak tertulis.
Fatwa bahwa:
- Kesesatan boleh hidup asal elit;
- Akidah bisa dinegosiasikan demi stabilitas;
- Warga NU harus menerima, bukan berpikir;
- kebohongan aqidah adalah wajar
- ajaran diluar Islam bisa dimaklumi asal yang menya.paikan kabib.
menyrbar kebencian atas nama agama itu wajar.
Jika ini terus dibiarkan, maka NU akan kehilangan keunggulan historisnya sebagai jam’iyah ulama yang rasional, kritis, dan berakar pada ilmu.
PBNU mungkin tetap berdiri megah.
Tetapi NU sebagai jamaah berakal akan terkikis dari dalam.
doktrin yang seharusnya dapat dicegah sejak dini Mala ikut dalam membela pendoyroan tersebut.
Dan sekali lagi, sejarah NU tidak pernah ramah pada kepemimpinan yang tahu ada khurafat, tetapi memilih bungkam demi aman. apakah ini fenomena atau paradigma terstruktur sehingga tidakmbanyak kiai NU meluruskan sejarah nu yang sebenarnya aepantren yang seharusnya menjadi dasar penananaman aqidah ahlusunnah waljamaah kini terkontaminasi adanya doktrin nasab yang halus dalam menyusup , mengikis aqidah yang tercipta sejak lahir dari rahim NU annahdliyah.
sumber
Red./SL.
Penulis : Mukhlis/Red