Pers Rilis* –
Surabaya nmp news. Di tengah riuh peringatan Hari Musik Nasional dan hari kelahiran Wage Rudolf Soepratman, sebuah kabar menggembirakan datang dari dunia musik Indonesia. Seolah membuka peti harta karun yang lama terkubur, sebuah lagu lama karya sang komponis kebangsaan kembali muncul ke permukaan setelah lebih dari seratus tahun menghilang dari catatan sejarah.
Lagu itu berjudul “Ratap Si Parto.”
Karya ini diyakini diciptakan Soepratman sekitar era 1920-an untuk pertunjukan toneel atau sandiwara panggung yang populer pada masa Hindia Belanda.
Penemuan lagu tersebut berawal dari penelusuran arsip yang dilakukan pustakawan Khusnul Khatimah di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dalam penelusuran itu ditemukan kembali partitur lagu yang lama tak diketahui keberadaannya. Temuan ini segera menarik perhatian para peneliti musik dan pecinta sejarah kebudayaan Indonesia. Ratap Si Parto” berbeda dari karya Soepratman yang dikenal luas seperti Indonesia Raya. Jika lagu kebangsaan itu sarat semangat perjuangan, “Ratap Si Parto” justru menghadirkan sisi yang lebih lirih dan manusiawi. Lagu ini berkisah tentang Parto, seorang bocah yang meratap karena merindukan ibunya yang telah meninggal.
Dalam ratapan itu terselip harapan polos seorang anak yang ingin bertemu kembali dengan ibunya, meski pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa harapan itu rapuh.
Para peneliti menduga Soepratman terinspirasi oleh lagu populer dunia saat itu, I’m Forever Blowing Bubbles (1919), yang dikenal dengan nuansa melankolis tentang mimpi dan harapan yang mudah pecah seperti gelembung. Sentuhan emosi yang serupa terasa dalam “Ratap Si Parto”.
Penemuan ini terasa semakin menyentuh bila diingat bahwa Soepratman sendiri kehilangan ibunya ketika masih berusia sembilan tahun.
Luka masa kecil itu diyakini meninggalkan jejak emosional yang dalam dan mungkin menjelma menjadi nada-nada sendu dalam lagu tersebut.
Menariknya, warisan musikal ini kini kembali hidup lewat generasi muda. Lagu tersebut diperkenalkan kembali oleh Antea Putri Turk (17), seorang soprano sekaligus komponis muda yang merupakan cicit buyut Ngadini—kakak kandung Soepratman.
Dalam peringatan Hari Musik Nasional, Antea membawakan beberapa karya bersejarah, termasuk “Ratap Si Parto” secara a cappella serta “Indonesia Tjantik”, lagu awal Soepratman yang sempat viral di media sosial dengan jutaan penayangan.
Peristiwa ini seakan mengingatkan bahwa sejarah musik tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu ditemukan kembali oleh generasi yang peduli. Di momen peringatan Hari Musik Nasional, kisah ini menjadi pengingat yang indah, bahwa dari masa lalu yang sunyi, nada-nada lama masih mampu kembali bergaung, membawa pesan kemanusiaan, cinta kepada ibu, dan harapan bagi bangsa.
*rilis: rd* /Sugeng / editor Mukhlis
Harta Karun Lagu W.R. Soepratman Muncul Lagi Setelah Seabad Menghilang

