(Catatan Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa atas Kitab Marāqī al-‘Ubūdiyyah karya Syaikh Nawawi al-Bantani. Selasa, 21 Juli 2026)

Oleh: Abu Syarif

“Seseorang dikenal bukan hanya dari lisannya, tetapi dari siapa yang duduk bersamanya.”

Pendahuluan

Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada seorang mukmin adalah dipertemukan dengan sahabat yang saleh. Sebaliknya, di antara musibah yang paling berat adalah terjerumus ke dalam lingkungan yang buruk. Karena itulah para ulama tasawuf tidak pernah memandang persahabatan sebagai persoalan sosial semata, melainkan sebagai bagian dari perjalanan spiritual seorang hamba menuju Allah.

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Marāqī al-‘Ubūdiyyah menjelaskan bahwa seorang pencari jalan Allah (sālik) harus menjaga adab ketika memasuki lingkungan baru, memilih sahabat, dan membangun persaudaraan. Sebab, perjalanan menuju Allah tidak ditempuh sendirian. Ia selalu dipengaruhi oleh orang-orang yang berjalan bersama.

Imam al-Ghazali bahkan menempatkan pembahasan tentang persahabatan dalam bagian khusus Kitāb Ādāb al-Ulfa wa al-Ukhuwwah dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, karena beliau memandang bahwa sahabat dapat menjadi sebab keselamatan, sekaligus sebab kebinasaan seseorang.

Persahabatan Adalah Jalan

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]: 119)

Ayat ini tidak hanya memerintahkan takwa, tetapi juga memerintahkan memilih lingkungan yang benar. Sebab istiqamah tidak lahir dari kesendirian, melainkan tumbuh dalam lingkungan yang saleh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seseorang mengikuti agama sahabat karibnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.”

(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)»

Hadis ini menjadi fondasi utama dalam pendidikan akhlak Islam. Kepribadian manusia dibentuk oleh lingkungan yang paling dekat dengannya.

Lima Adab Ketika Memasuki Lingkungan Baru

Syaikh Nawawi menjelaskan bahwa seorang murid tidak boleh tergesa-gesa mencampuri kehidupan orang lain.

Karena itu, ketika memasuki lingkungan baru, hendaknya ia menjaga lima adab.

Pertama, tidak mencampuri pembicaraan orang lain.

Kedua, tidak memasang telinga terhadap pembicaraan yang bukan urusannya.

Ketiga, mengabaikan percakapan yang tidak membawa manfaat.

Keempat, tidak terlalu sering berkumpul dalam majelis yang dipenuhi senda gurau dan kelalaian.

Kelima, apabila telah terjalin persaudaraan, hendaknya menasihati dengan kelembutan, bukan dengan celaan.

Inilah adab yang melahirkan kewibawaan seorang mukmin.

Lingkungan Adalah Madrasah Kehidupan

Pengaruh terbesar manusia bukan berasal dari buku yang dibacanya, melainkan dari orang-orang yang setiap hari berada di sekitarnya.

Anak-anak muda yang terjerumus kepada narkoba, minuman keras, atau pergaulan bebas, sering kali bukan karena mereka sejak awal menginginkannya, melainkan karena pengaruh lingkungan.

Dalam bahasa modern disebut social influence.

Dalam bahasa tasawuf disebut ṣuḥbah.

Karena itu, memilih teman sama pentingnya dengan memilih guru.

Tiga Jenis Sahabat

Menurut para ulama, persahabatan mempunyai tiga tingkatan.

  1. Sahabat Akhirat (Akhun lil Ākhirah)

Yaitu sahabat yang mengingatkan kepada Allah. Teman mengaji. Teman dzikir. Teman suluk. Teman yang membuat iman bertambah ketika duduk bersamanya. Inilah persahabatan yang paling mulia.

  1. Sahabat Dunia (Akhun lid Dunyā)

Mereka adalah teman bekerja. Teman berdagang. Teman bermusyawarah. Teman yang saling membantu urusan kehidupan. Islam membolehkan bentuk persahabatan seperti ini selama berada dalam koridor syariat.

  1. Sahabat Penenteram Jiwa (Akhun lit-Ta’annus)

Mereka adalah teman yang menghadirkan ketenangan. Bersamanya hati terasa lapang. Percakapan tidak dipenuhi ghibah. Pertemuan tidak melalaikan Allah.

Tidak semua sahabat harus menjadi guru. Tidak semua guru harus menjadi sahabat. Setiap orang memiliki fungsi yang berbeda.

Syarat Sahabat Menurut Imam al-Ghazali

Dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Imam al-Ghazali menyebut beberapa syarat sahabat yang baik.

Di antaranya:

  • Berakal.
  • Baik akhlaknya.
  • Tidak fasik.
  • Tidak rakus terhadap dunia.
  • Tidak bodoh.

Mengapa akal ditempatkan pertama?
Karena akal adalah pangkal seluruh kebaikan.

Orang yang cerdas mampu menjaga dirinya. Orang yang berakal mampu menjaga sahabatnya. Sedangkan orang bodoh sering kali mencelakakan sahabatnya meskipun niatnya baik.

Hikmah Para Ulama

Para ulama salaf mengatakan:

إني لآمن من عدو عاقل ولكن أخاف من صديق جاهل

“Aku lebih merasa aman menghadapi musuh yang berakal daripada sahabat yang bodoh.”

Ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam. Musuh yang cerdas dapat diprediksi. Strateginya dapat dipelajari. Karena itu kita mampu mempersiapkan diri.

Sebaliknya, sahabat yang bodoh bertindak tanpa ilmu. Ia dapat merusak persahabatan, agama, bahkan masa depan seseorang tanpa ia sadari.

Al-Mar’u Ma’a Man Ahabba

Puncak seluruh pembahasan ini ditutup oleh sabda Rasulullah ﷺ:

المرء مع من أحب

“Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi kabar gembira bagi orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ, para sahabat, para ulama, guru-guru ruhani, dan orang-orang saleh.

Karena cinta yang lahir karena Allah tidak berhenti di dunia. Ia berlanjut hingga surga.

Refleksi

Persahabatan bukan sekadar hubungan sosial. Ia adalah jalan pendidikan. Ia adalah madrasah akhlak. Ia adalah cermin hati.

Maka jangan hanya bertanya:

“Siapa yang menjadi temanku?”

Tetapi bertanyalah:

“Menjadi manusia seperti apa aku setelah berteman dengannya?”

Karena setiap persahabatan sedang membawa kita menuju suatu tujuan.

Entah menuju Allah, atau menjauh dari-Nya.

Penutup

Imam al-Ghazali menulis dalam Bidayatul Hidayah bahwa seorang murid hendaknya lebih berhati-hati memilih sahabat daripada memilih makanan. Sebab makanan hanya memengaruhi tubuh beberapa saat, sedangkan sahabat memengaruhi hati sepanjang usia.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan para guru yang saleh, para sahabat yang bertakwa, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah ﷺ di dalam surga-Nya.

Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.

2 thoughts on “ADAB MEMILIH SAHABAT: JALAN MENUJU KESELAMATAN HATI”
    1. terima kasih atas karya dan dedikasinya semoga membawa inspirasi bagi pembaca dan mengedukasi setiap setiap syair yang tersampaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *