Petir India
‎Oleh: Dahlan Iskan
‎
‎nmpnews, Kamis 26-02-2026
‎(Agrinas terlanjur memesan Mobil Pikap Impor Pabrikan Mahindra asal India dan 1.000 unit di antaranya telah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara-Istimewa)

‎Hujan memang masih turun dari langit, tapi petirnya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan. “Impor mobil dari India agar ditunda dulu”, ujar Wakil Ketua DPR Prof Dr Sufmi Dasco Ahmad, dua hari lalu.
‎
‎Impor mobil? Dari India? Siapa yang impor? Untuk apa?
‎
‎Saya benar-benar seperti tersambar petir. Tidak pernah dengar berita apa pun di sekitar impor mobil itu. Tiba-tiba ada berita minta ditunda. Selentingan pun belum pernah. Benar-benar ketat penjagaan informasi rencana impor itu. Tiba-tiba saja sudah begitu jauh: mobilnya sudah dipesan. Uang muka sudah dibayar: 30 persen.
‎
‎Petir berikutnya: jumlah mobil yang dibeli itu ternyata besaaaaar sekali: 105.000 mobil. Berarti uang muka yang sudah dibayar sama dengan nilai harga penuh 35.000 mobil.
‎
‎Setelah agak tersadar dari kekagetan saya ingat: harus sering memuji orang. Pasti ada orang hebat di baliknya. Salah satunya: manajer pemasaran pabrik mobil India itu. Ia/dia manajer yang hebat. Sangat berprestasi. Ia/dia pantas dapat bonus besar tahun ini. Atau naik jabatan.
‎
‎Masih ada petir susulan yang menyambar kepala saya. Namanya: Joao Angelo de Sousa Mota. Saya kaget. Ternyata Joao-lah yang memutuskan membeli mobil sebanyak itu.
‎
‎Yang membuat saya lebih kaget: ternyata Joao masih menjabat Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara. Perusahaan itulah yang melakukan transaksi dengan pabrik mobil India.
‎
‎Saya pikir Joao sudah tidak di perusahaan itu lagi. Ia kan sudah mengajukan surat pengunduran diri. Ia mundur karena kecewa: sudah enam bulan menjabat dirut belum bisa berbuat apa-apa. Ia mengeluhkan birokrasi di Danantara yang masih sama dengan BUMN.
‎
‎Waktu mundur itu saya melakukan wawancara dengan Joao. Lalu saya tulis di Disway (lihat disway 13 Agustus 2025: Petir Joao).
‎
‎Sebagai anak perusahaan Danantara semua rencana kerja PT Agrinas Pangan Nusantara memang harus disetujui holding.
‎
‎Joao tidak pernah mendapat persetujuan apa pun. Ia malu sudah enam bulan bergaji besar tapi tidak bekerja apa-apa. Padahal target pemerintah di bidang swasembada pangan begitu besar gemanya. PT Agrinas Pangan belum berbuat apa-apa. Ia pilih mundur.
‎
‎Joao kenal Presiden Prabowo. Kenal dekat. Masih tetap berhubungan pun setelah Prabowo menjadi presiden. Joao adalah tokoh di Timor Timur –sekarang Timor Leste. Prabowo-muda pernah diterjunkan ke medan perang di sana.
‎
‎Beberapa waktu setelah mundur itu saya menghubungi Joao lagi. Tidak tersambung. Lagi. Juga tidak terhubung.
‎
‎Saya hanya ingin bertanya: siapa dirut PT Agrinas Pangan Nusantara yang menggantikannya. Ternyata sekaranglah jawabnya: Joao masih menjabat dirut di situ.
‎
‎Rupanya Presiden Prabowo tahu ketika tiba-tiba Joao jadi berita besar: mundur dari jabatan dirut. Langka ada dirut mengundurkan diri. Apalagi motifnya karena malu tidak bisa melakukan apa-apa.
‎
‎Berarti Joao dilarang mundur.
‎
‎Ternyata, kini, begitu bisa bekerja Joao bekerja luar biasa. Luar biasa besarnya. Juga luar biasa cepatnya.
‎
‎Besar: impor mobil sebanyak 105.000.
‎
‎Cepat: sudah membayar uang muka 30 persen.
‎
‎Bahkan ternyata lebih cepat dari itu: mobil pikap India tersebut sudah akan tiba. Minggu depan.
‎
‎(Mobil pikap buatan tata Motors, India. -Foto: Tata Motors)
‎
‎Maka saya tidak bisa melanjutkan tulisan ini: petir beberapa kali itu membuat kepala saya sulit menyusun kalimat yang tidak menyakitkan siapa pun. Terlalu banyak pertanyaan di kepala. Semua tidak tersedia jawabnya.
‎
‎Bagaimana proses terjadinya keputusan itu? Pakai tender atau e-katalog seperti chromebook?
‎
‎Dari mana dapat uang muka 30 persen untuk mobil berjumlah 105.000?
‎
‎Kalau dari APBN mengapa Menkeu Purbaya tidak mencak-mencak?
‎
‎Maka, mestinya, bukan dari APBN.
‎
‎Berarti dari Danantara? Pun pelunasannya nanti juga dari Danantara?
‎
‎Sebegitu mudahkah Danantara mengeluarkan uang?
‎
‎Jangan-jangan bukan dari Danantara –juga bukan dari APBN. Jangan-jangan ada orang baik hati yang menyumbang uang Rp 9 triliun untuk PT Agrinas –asal Joao jangan ngambek sampai minta berhenti begitu.
‎
‎Lalu: mobil sebanyak itu akan dibagi ke siapa? Memang disebut-sebut akan dibagi ke Koperasi Desa Merah Putih. Apakah koperasinya sudah siap? Akan mengangkut apa?
‎
‎Padahal mobilnya sudah akan tiba. Tidak mungkin disimpan begitu saja di gudang. Itu sangat bertentangan dengan disiplin keuangan: terkait ROI. Berarti segera pula dibagi ke koperasi. Sebelum lebaran ini.
‎
‎Terlalu pusing saya memikirkan: akan dipakai mengangkut apa mobil itu. Agar hasil angkutnya bisa untuk biaya oprasional dan mengembalikan modal.
‎
‎Masih ada pertanyaan ini: kalau PT Agrinas membagikan mobil itu ke Koperasi Desa Merah Putih, akad serah terimanya bagaimana? Hibah? Pinjaman? Setoran modal?
‎
‎Benar-benar pusing.
‎
‎Lalu: apa hubungan hukum PT Agrinas Pangan dengan Koperasi Desa Merah Putih hingga bisa membeli mobil untuk mereka?
‎
‎Pusing.
‎
‎Setidaknya saya terhibur: ternyata Joao masih tetap jadi dirut PT Angrinas Pangan Nusantara.(Dahlan Iskan)
‎
‎https://disway.id/catatan-harian-dahlan/931968/petir-india
‎
‎Informasi Mojokerto dan sekitarnya
‎Klik..
‎https://mojokerto.disway.id/news/read/8129/aksi-bobol-toko-sembako-di-mojokerto-terekam-cctv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *