SIDOARJO, NMP News – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Tawangsari, Kecamatan Taman, sukses menggelar Musyawarah Ranting (Musran) dalam rangka regenerasi dan pergantian kepengurusan masa bakti 2026–2031. Acara berlangsung khidmat di Aula Masjid Al-Badri, pada hari Minggu (24/05/2026) pukul 20.00 WIB, dan menghasilkan kesepakatan melalui musyawarah mufakat.
‎
‎Sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia, NU memiliki aturan dasar bahwa kepengurusan harus berjalan secara rapi, terstruktur, dan berkesinambungan. Hal ini dilakukan agar estafet kepemimpinan berjalan lancar berbekal sistem pengkaderan yang matang. Struktur organisasi NU dibagi ke dalam beberapa tingkatan: tingkat pusat disebut PBNU, tingkat wilayah PWNU, tingkat kabupaten/kota PCNU, tingkat kecamatan MWC NU, dan tingkat desa atau kelurahan disebut Pengurus Ranting NU. Di tingkat ranting, Musran menjadi momen penting untuk menentukan arah organisasi dan memilih pemimpin baru setiap satu periode jabatan.
‎
‎Kegiatan Musran kali ini dihadiri oleh seluruh pengurus dan anggota NU Ranting Tawangsari. Turut hadir Ketua MWC NU Kecamatan Taman Ustadz Ahmad Syafi’i didampingi Sekretaris Sugeng Pamuji, Takmir Masjid Al-Badri Gus Faitus Badi, serta tim keamanan dari Satkorpel Banser Tawangsari, Muslimat , Fatayat, Ippnu dan perwakilan takmir musholla dan masjid se desa Tawangsari .
‎
‎Dalam Susana khidmad , Ketua Panitia Ali Soim mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh elemen yang mendukung terselenggaranya acara ini. ketika memberikan sambutan.  Selanjutnya, Ketua NU Ranting Tawangsari periode sebelumnya, Ustadz Kasdi, menyampaikan laporan kinerja dan berbagai keberhasilan program yang telah dijalankan, antara lain pembagian kotak infaq, kegiatan Lailatul Ijtima, serta Gebyar Muharram yang berjalan sukses. Ia berharap program-program positif tersebut dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan oleh kepengurusan baru.
‎
‎dilanjutkan Ketua MWC NU Kecamatan Taman, Ustadz Ahmad Syafi’i, dalam arahannya memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja pengurus ranting. Menurutnya, NU Ranting Tawangsari memiliki catatan istimewa karena setiap kegiatan yang digelar selalu bernuansa pengkaderan yang kuat.
‎
‎“Keberlangsungan dan keberadaan NU ke depan sangat bergantung pada bagaimana kita merawat para kader dan badan otonom, mulai dari Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, hingga Ansor dan Banser. Ingatlah, NU bukanlah organisasi jabatan, melainkan organisasi pengabdian demi kepentingan agama dan keberkahan. Siapapun yang terpilih nanti, tugas utamanya adalah melayani dan mengabdi bagi masyarakat dan umat,” tegas Ustadz Ahmad Syafi’i.
‎
‎Sesi inti Musran berlangsung melalui dua tahap sidang pleno yang dipimpin langsung oleh Sekretaris MWC NU, Sugeng Pamuji. Pada Sidang Pleno I, Ustadz Lutfi menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) yang mencakup rincian seluruh program kerja, pemasukan, hingga saldo akhir kepengurusan.
‎
‎Setelah melalui pembahasan mendalam dan musyawarah mufakat , tim Ahwa telah mencapai kesepakatan untuk menetapkan ketua Rois syuriyah yang baru periode 2026–2031, yaitu:
‎Rois Syuriah: KH. Gus Ahmad Farid Wajdi
‎- Ketua Tanfidzi: Ustadz Kasdi (terpilih kembali melalui musyawarah anggota Rapat.
‎
‎Ditetapkannya nama-nama tersebut menjadi harapan baru bagi warga NU di wilayah Tawangsari. Hasil Musran malam ini diharapkan dapat membawa NU Ranting Tawangsari menjadi lebih maju, semakin kokoh, dan terus memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
‎
‎red/editor  Mukhlis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *