Penulis : Hengky Sendyanto
Sabtu, 20 Juni 2026
Tuban Jawa Timur – nmp news – Seruan untuk menghadiri Tahlil Akbar dalam rangka Haul ke-517 bukan sekadar undangan seremonial. Ini adalah panggilan sejarah. Panggilan perlawanan. Panggilan kesadaran.
Di tengah derasnya arus distorsi nilai, kaburnya arah perjuangan, dan mulai bergesernya jati diri keislaman Nusantara, haul ini harus dimaknai lebih dari sekadar ritual. Ini adalah momentum untuk bertanya secara jujur: apakah kita masih setia pada ajaran para wali, atau justru mulai meninggalkannya?
Bukan tokoh biasa. Ia adalah arsitek peradaban Islam Nusantara—yang menyebarkan Islam dengan hikmah, dengan budaya, dengan kecerdasan spiritual yang membumi. Dakwahnya tidak memaksa, tetapi mengakar. Tidak memecah, tetapi menyatukan.
Maka ketika kita datang ke makamnya pada Kamis, 25 Juni 2026, di pagi hari sejak pukul 07.00 WIB hingga selesai, jangan hanya membawa doa. Bawa juga kesadaran. Bawa keberanian. Bawa komitmen untuk menjaga warisan itu dari segala bentuk penyimpangan.
Kehadiran tokoh-tokoh seperti Gus Abbas, H. Rhoma Irama, KH. Syaikhur Rizal, KH. Nur Ihya, KH. Marzuqi Mustamar, KH. Muharror, dan KH. Ansori dan masih banyak lagi tokoh tokoh lainnya bukan sekadar pelengkap acara. Mereka adalah simbol bahwa perjuangan ini masih hidup—bahwa masih ada barisan yang siap menjaga arah.
Namun mari jujur: apakah kita hanya akan menjadi penonton sejarah, atau pelaku yang menjaga warisan?
Di sinilah Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) harus mengambil peran strategis. Haul ini bukan hanya ruang doa, tetapi ruang konsolidasi. Bukan hanya ziarah, tetapi deklarasi kesadaran bahwa ajaran Wali Songo tidak boleh diperdagangkan, tidak boleh diselewengkan, dan tidak boleh diserahkan kepada kepentingan sempit.
PWI-LS harus menjadikan momentum ini sebagai titik balik: membangun barisan umat yang berpikir objektif, tidak mudah terprovokasi simbol, tidak tunduk pada klaim tanpa dasar, dan berani meluruskan ketika ada penyimpangan.
Karena ancaman hari ini bukan datang dengan wajah kasar. Ia datang dengan jubah religius, dengan bahasa halus, tetapi membawa agenda yang bisa menggerus identitas Islam Nusantara.
Jika kita hanya datang, duduk, dan pulang tanpa perubahan sikap—maka haul ini hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna.
Tetapi jika kita datang dengan kesadaran, dengan semangat menjaga, dan dengan keberanian bersikap—maka dari makam Sunan Bonang akan lahir gelombang baru: gelombang kebangkitan umat yang sadar akan jati dirinya.
Ingat, para wali tidak mewariskan kemewahan. Mereka mewariskan perjuangan.
Dan hari ini, perjuangan itu ada di tangan kita. Jadi datanglah. Hadirilah. Tetapi jangan hanya hadir.
Bangkitlah—dan jaga warisan Wali Songo sampai titik darah penghabisan.
sumber : Tim Divisi Media dan Informasi PP PWI-LS (Newsroom Nasional)